Juli 29, 2009

Budidaya Rumput Laut di Tambak Bandeng


Ternyata, bukan hanya penduduk yang tinggal di tepi pantai yang bisa membu­di­dayakan tanaman rumput laut. Pasalnya, tanaman yang merupakan bahan pembuat agar-agar ini juga bisa dibudidayakan dalam tambak. Hasilnya, tak kalah dengan rumput laut yang dibudidayakan di tepi pantai. Bahkan bisa dicampur dengan budidaya bandeng.

Rumput laut untuk bahan membuat agar-agar gracilaria sp adalah rumput laut yang termasuk pada kelas alga merah (Rhodophyta). Kandungan serat agar-agar relatif tinggi. Karena itulah, dikonsumsi pula sebagai makanan diet. Melalui proses tertentu, agar-agar diproduksi pula untuk kegunaan di labora­torium sebagai media kultur bakteri atau kultur jaringan.

Cara membudidayakan rumput laut di tambak cukup mudah. Tambak yang keadaan dan kualitas airnya sudah memenuhi syarat, diber­sih­kan dari kotoran. Tambak dikuras dengan mengeluarkan dan memasukan air laut pada saat pasang-surut. Sehing­ga air yang ada dalam tambak merupakan air segar (baru).

Bibit ditanam dengan cara menebarkannya secara merata di dalam tambak pada saat keadaan cuaca cukup teduh, yaitu pada pagi hari atau sore hari.

Pada musim kemarau, suhu air di dasar tambak diusahakan supaya tidak terlalu tinggi. Apabila suhu air di atas normal, maka kedalaman air di dalam tambak perlu ditambah. Sehingga suhu di dasar tambak dapat dipertahan­kan pada kondisi normal.

Sebagaimana budidaya tanaman di darat, rumput laut juga memerlukan pupuk agar tumbuh subur. Gracilaria juga memerlu­kan nutrisi pada pertum­buhannya seperti nitrogen, phosphat dan kalium serta oksigen. Kualitas nutrisi air tambak berpe­ngaruh terhadap peng­gunaan pupuk.

Pada prinsipnya, empat minggu pertama, tanaman memerlukan lebih banyak nutrisi nitrogen, sedang­kan dua atau tiga minggu sebelum panen tanaman memerlukan lebih banyak nutrisi phosphat.

Sementara untuk pemeliharaan atau pe­ra­watan diperlukan memper­ta­hankan salinitas dan nutrisi baru, dengan dilakukan pergantian air minimal setiap tiga hari sekali pada saat surut dan pasang. Penggantian air pada musim kemarau dilakukan lebih sering dibanding musim hujan.

Menjaga kebersihan tambak dengan jalan membuang kotoran dan tanaman lain (rumput dan alga lainnya) serta mela­­ku­­­kan perawatan pintu-pintu air, saluran air dan pera­wat­an pematang tambak.

Panen dan pascapanen
Panen dapat dilakukan setelah tanaman berusia sekitar 45 sampai 60 hari. Tanaman yang masih belum matang ditanam kembali sebagai bibit baru. Sebelum dikering­kan hasil panen dicuci terlebih da­hu­lu. Penge­ringan diusahakan sampai dengan kandungan air sekitar 12 persen.

Rumput kemudian diayak atau diperlakukan lain untuk merontokkan butir-butir halus garam dan debu yang masih melekat serta sekaligus melakukan sortir ulang. Hasilnya disimpan dalam gudang yang memiliki sirkulasi udara yang cukup baik. Selanjutnya, pengepakan sebaiknya dilakukan dengan mesin pres.

Budidaya campuran
Apabila di dalam tambak tumbuh banyak alga hijau seperti Enteromorpha, Chae­tomorpha, dan lain-lain, dapat dilaku­kan budi­­daya campur­an atau mix-farming dengan ikan bandeng (milk-fish). Masukkan sekitar 750 sampai 1000 ekor untuk setiap satu hektar dengan ukuran besar ikan sekitar 100 g/ekor.

Budidaya campuran rumput laut gracilaria dengan ikan bandeng, sudah merupakan usaha yang dikem­bang­kan sedemikian rupa, dengan tujuan tidak hanya untuk menghilangkan alga hijau, akan tetapi sebagai upaya me­ning­­katkan efisiensi lahan dan meningkat­kan pendapatan.

Apabila laju pertumbuhan perhari mencapai 4 persen ke atas, maka dapat ditebarkan sekitar 1000 sampai 1500 ekor per hektar dengan ukuran besar ikan sekitar 100 g/ekor. (saeroji/dari berbagai sumber)

0 komentar:

suara anda:

ShoutMix chat widget

Pengunjung Ke:

Pengikut

Lorem Ipsum


  © Blogger templates Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP