Agustus 25, 2009

Dishutbun Lebak Lestarikan DTA

Dalam rangka percepatan penghijau­an lahan kritis, Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Lebak merehabilitasi kawasan tangkapan air (cathment area) guna menyimpan cadangan stok air dalam tanah. Hal itu ditegaskan Kabid Kehutanan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Lebak, Asep Muladi.

Dikatakan Asep, bukti keseriusan dan kepedulian Pemkab Lebak dalam memelihara dan melestarikan alam dan kawasan tangkapan air, pada tahun 2009 ini rehabilitasi cathment area dialokasikan di Kecamatan Cibadak, Warunggunung, Panggarangan dan Kecamatan Cilograng.

Sementara itu ditempat terpisah, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Daerah Tangkapan Air dan Bendungan (DTA) yang juga menjabat Kasi Perlin­dung­an Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Dinas kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Lebak, Noerly Edlinar, S. Hut, mengatakan kegiatan tersebut pelaksana­annya oleh kelompok tani, dengan melakukan penanaman pohon di Daerah Tangkapan Air (DTA) sebanyak 10 ribu batang/bibit pohon dengan luas areal 20 hektare per unitnya. Jenis pohon yang dinanam, lanjut Noerly, bermacam-macam seperti, Albasiah, Mahoni, Pulai, Kaliandra, Bambu, Sukun dan Jengkol.

Kegiatan tersebut bertujuan, untuk mengurangi atau mengantisipasi terjadinya erosi permukaan tanah dan dapat ter­­se­dianya air sepanjang tahun dalam kapasitas yang cukup. "Hal ini dilakukan guna menjaga atau mengurangi terjadinya erosi pada permukaan tanah dan tersedianya air sepanjang tahun dalam kapasitasi yang cukup," katanya.

Noerly berharap, kegiatan tersebut dapat meningkatkan motivasi masyara­kat sekitar DTA, untuk menjaga tanam­an atau tegakan di sekitar DTA dan meningkatkan kesejahteraan kelompok tani dalam pelestarian sumber daya alam. (Sudrajat_Banten Ekspose)

Read More.. Read more...

Lokasi Tumpang Tindih, Reforma Agraria Jadi Lambat

Pemetaan lokasi yang tumpang tindih serta masih banyaknya warga yang belum melunasi BPHTB, menjadi penyebab keterlambatan penerbitan sertifikat reforma agraria. Selain itu, kelengkapan persyaratan lainnya banyak yang belum dipenuhi warga.

Demikian dikemukakan Kepala BPN Kabupaten Pandeglang Ir H Fuad Effendi MM, menanggapi persoalan keterlambatan sertifikat reforma agraria tahun 2008 di wilayah kerjanya. Seperti diketahui, pada 2008 di Kabupaten Pandeglang sebanyak 4600 bidang tanah di sembilan desa (empat kecamatan) mendapat program reforma agraria.

"Masih banyaknya kekurangan tersebut, secara tidak langsung akan menghambat kepada pembuatan sertifikat bagi masyarakat yang lainnya. Apalagi setelah melihat hasil pengukuran, banyak yang sudah terdaftar dalam peta ketanahan di BPN. Bila ini diteruskan untuk dicetak akan terjadi tumpang tindih (ganda) sertifikat," ujar H Fuad seraya menyatakan bila tidak ada kesalahan dalam adminis­trasi, sertifikat tersebut sudah selesai.

Saat ini, ungkap Fuad, beberapa desa yang sertifikatnya selesai, telah diserahkan ke desa untuk dibagikan kepada masyara­kat yang berhak mendapatkannya. Semen­tara untuk desa yang lain sudah dicetak tinggal di tandatangani.

Sementara itu, pelaksana kegiatan refor­ma agraria Kanwil BPN Provinsi Banten Dadi, menyatakan keterlamabatan program reforma agraria di Pandeglang, akibat banyaknya kegiatan yang dilaksanakan BPN Kabupaten Pandeglang. Diantaranya kegiatan Sertifikat UMKM, Kegiatan Ajudikasi, SMS, serta masalah administrasi lainnya yang kurang lengkap. "Untuk melakukan pembuatan sertifikat diperlukan kehati-hatian dan kecermatan. Dengan demikian, setelah sertifikat itu jadi tidak ada masyarakat yang komplain terhadap BPN," jelasnya.

Kepala Desa Tarumanegara Rahmat, menyatakan hasil pengukuran ulang yang dilakukan panitia dan petugas dari BPN Pandeglang menemukan selisih luas. Dari 801 bidang yang ada, hasilnya hanya 776 bidang saja.

"Itu telah diberi tanda. pihak kepala desa tidak mungkin memberikan data yang salah, karena bila terjadi tumpang tindih yang bila mana itu terjadi pihak desapun akan terlibat," ujar Rahmat seraya berharap BPN Kabupaten Pandeglang untuk segera menurunkan Sertifikat yang telah jadi, karena masyarakat terus memperta­nyakan. (Sofyan_BAnten Ekspose)

Read More.. Read more...

Saluran Air Kecil, Jalan Nasional Sering Banjir


Akibat kecilnya lubang saluran pembawa (gorong-gorong, red) kali kangkung, hampir setiap musim hujan tiba jalan nasional di depan Dealer Mitshubisi Cilegon sering banjir.

"Saat air hujan meluap di hulu kali kangkung tidak bisa tertampung saluran pembawa, sehingga air hujan meluap ke jalan, akibatnya jalan nasional sering banjir. Bila mana tidak ada perbaikan saluran pembawa oleh Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Banten, maka banjir akan terus menerus terjadi," terang Kasi Pemeliharaan pengairan Dinas Pekerjaan Umum Kota Cilegon H. A Rokhman, SE.

H. Rokhman berharap, Dinas Bina Marga Provinsi Banten dapat memperbaiki saluran pembawa kali kangkung yang berada di jalan nasional, sehingga arus kendaraan yang melintas di depan dealer Mitshubisi pada saat musim hujan tidak terganggu. Dengan ditinggikannya jalan jalan nasional ini, berarti saluran pembawa akan luas, sehingga saat musim hujan air meluap tidak akan lagi meluap ke jalan.

Bahrudin kasie pembangunan Bidang pengairan menambahkan, Balai Besar Ciujung, Cidanau, Ciliman Provinsi Banten sepenuhnya menangani Irigasi Di Ciujung yang melintas Kota Cilegon. Yakni irigasi PCI sampai Panggung rawi, sementara itu yang telah di laksanakan baru mencapai perbatasan Kota Cilegon dengan Kabupaten Serang tepatnya di sekitar Kecamatan Kramatwatu. Belum tuntasnya pengerukan lumpur yang dilakukan Balai Besar tersebut, air yang mengalir di saluran irigasi Di Ciujung ini belum sepenuhnya dapat di manfaatkan oleh petani Kota Cilegon, sehingga sawah yang seharusnya dapat mengahsilkan dua musim panen sekarang ini hanya satu kali.

Bahrudin berharap kepada Balai Besar Ciujung, Cidanau, Cidurian untuk segera melakukan pengerukan lumpur lanjutan, sehingga para petani penmakai air dapat menikmati hasil yang maksimal."Karena saluran irigasi yang melintasi PCI sampai panggung rawi ini dapat mengairi areal sawah kurang lebih 50 Ha, tidak hanya itu dengan adanya pengerukan saluran irigasi juga akan mengurangi luapan air hujan," tegasnya. (Deden_Banten Ekspose)

Read More.. Read more...

Abrasi Terus Terjadi, Jalan Digenangi Air Laut

Kondisi pantai di kawasan selatan Kabupaten Pandeglang, Banten, semakin parah dan mengkhawatirkan. Dalam dua tahun terakhir, abrasi (pengikisan) pantai sudah mencapai 20 - 30 meter dari garis pantai.

Berdasarkan pantauan Banten Ekspose, abrasi paling parah terjadi di sepanjang pantai Panimbang hingga kawasan wisata Tanjung Lesung. Abrasi telah menyusutkan lebar pantai hingga tinggal beberapa meter saja. Di Desa Panimbang dan Desa Citeurup, penduduk membuat tanggul batu kali atau menempatkan kantung-kantung pasir, guna menghadang gerak maju air laut.

Jarak bibir pantai dengan jalan jalan raya tidak sampai lima meter, sehingga bila pasang tiba, jalan raya tergenang, kenda­raan yang sedang melintas di kawasan itu terpaksa berjalan merayap. Untuk mengingatkan pengguna jalan di kawasan itu dipasang beberapa papan peringatan yang bertuliskan,"Hati-hati Jalan Akan Runtuh karena Abrasi".

Sejumlah warga di Desa Citeureup, Kecamatan Panimbang mengeluhkan hilangnya pohon-pohon kelapa dan sebagian ruas jalan karena tergerus ombak. "Ini sangat mengkhawatirkan, tapi Pemerintah Kabupaten Pandeglang, kok tutup mata terhadap kondisi ini," ucap Torik, warga Panimbang.

Warga di Desa Panimbang juga mengungkapkan, dulu jarak antara tepi laut dan jalan raya sekitar 100 meter. Akibat abrasi, jarak dengan tepi laut hanya tinggal beberapa meter dari jalan raya, sehingga jika laut sedang pasang kendaraan terpaksa harus jalan merayap karena digenangi air.

"Abrasi di sini terjadi dengan cepat, terutama sejak dua tahun terakhir. Dalam kurun waktu tersebut, di kawasan Panim­-bang pohon-pohon kelapa tersapu ombak, bahkan lapangan bola tempat bermain warga terendam hingga menjadi laut," ujar seorang warga Desa Panimbang.

Ancaman abrasi pada jalur pantai selatan wilayah Kabupaten Pandeglang Banten juga terlihat di Pantai Laba, Desa Labuan, Kecamatan Labuan. Tunggul pohon kelapa yang diterjang ombak terlihat berserakan. Tempat yang dulu digunakan untuk lapangan sepak bola, saat ini sudah masuk wilayah pasang-surut dan dimanfaatkan untuk menambatkan kapal-kapal nelayan.

"Penduduk yang tadinya tinggal sekitar 60 meter ke arah laut dari garis pantai sekarang membangun rumah ke arah darat. Karena takut satu saat disapu ombak," ujar Asep warga Labuan.

Menurut warga, abrasi pantai itu terjadi sejak lima tahun terakhir. Mereka mengaku, tidak tahu persis penyebab abrasi, tetapi mereka mencoba menghubungkannya dengan kegiatan penggalian pasir dan pengangkatan karang di kawasan sekitarnya.(Sofyan_Banten Ekspose)

Read More.. Read more...

Agustus 24, 2009

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Rubah Perilaku Hidup Sehat

Kebiasaan perilaku hidup sehat, salah satunya tidak buang hajat sembarangan, dibeberapa desa di Kota Serang masih memprihatinkan. Tentu saja masyarakat, harus diberikan pemahaman dan wawasan pentingnya hidup sehat. Kebiasaan buang hajat sembarangan hampir dapat dijumpai di semua desa yang ada di Kecamatan Kase­men Kota Serang. Bantuan yang diberikan pemerintah baik melalui Dinas Kesehatan, atau melalui PNPM Mandiri, bangunan MCK ini tidaklah berumur panjang karena banyak yang dibiarkan rusak.

Dengan melihat perkembangan ini Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa melalui Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) memcoba untuk memberikan pemahaman tentang pola hidup sehat dengan mengembangkan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

Menurut Aditya, Ketua Kelompok IX KKM Untirta mengatakan, Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STMB) merupakan langkah nyata untuk merubah pola hidup sehat yang ada di masyarakat. Dimana kebiasaan buang hajat sembarangan akan dapat teratasi bila niat untuk merubah pola kebiasaan tersebut lahir dari dalam diri masyarakat yang ada di Kecamatan Kasemen umumnya dan khususnya Desa Masjid Priyayi, apalagi Desa masjid Priyayi merupakan wilayah dalam Kota Serang.

Menurut Aditya saat berdialog dengan masyarakat, mereka (masyarakat, red) telah mengetahui bahwa kebiasaan buang hajat sembarangan itu tidak sehat, akan tetapi jawaban itu dibarengi dengan alasan yang kuat bahwa membuat WC itu mahal. Namun jawaban membuat WC mahal bukan suatu alasan yang tepat sekali, bila mana ada niat untuk merubah perilaku yang tidak sehat ke pola hidup sehat banyak langkah yang dapat di lakukan, terangnya.

Melihat kekompakan masyarakat Desa Masjid Priyayi saat memperingati Isra dan Mi'raz Nabi Besar Muhamad SAW sangat meriah, semua kampung memperingatinya dengan bantuan dana dari swdaya murni masyarakat. Bila ini dikaitkan dengan pola hidup sehat membuang hajat tidak sembarangan lagi, bila ada niat untuk merubah dapat di lakukan bersama-sama. Salah satunya yaitu Sanitasi Total Berbasis Masyara­kat.

"Artinya membangun MCK atau WC secara swadaya dari masyarakat, dibangun oleh masyarakat, dirawat oleh masyarakat, dan untuk kepentingan masyarakat. Ini merupakan langkah nyata untuk merubah prilaku hidup sehat," Ujarnya.

Masih kata Aditya, bila dalam penyelenggaraan kegiatan keagamaan, masyarakat mampu untuk bersama-sama gotong royong agar pelaksanaan meriah dan berhasil. Merubah prilaku sehat juga harus bisa, karena kebersihan merupakan sebagian dari iman.

Menyinggung dengan bantuan yang telah diberikan pemerintah baik itu melalui Dinas Kesehatan atau melalui PMPN mandiri, tidaklah berjalan dengan maksimal. Karena masyarakat tidak mau merawat dan memelihara MCK tersebut. "Bila niat itu datang dari masyarakat semuanya akan dapat teratasi," tegasnya. (Sofyan_Banten Ekspose)

Read More.. Read more...

suara anda:

ShoutMix chat widget

Pengunjung Ke:

Pengikut

Lorem Ipsum


  © Blogger templates Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP